CALL US TODAY FOR A CONSULTATION

+62 821 2607 8588

Tips Keuangan untuk Generasi Milenial

Diperbarui: Jun 8

Merasa belum lama meniti karir dan punya gaji yang pas-pasan pula, semestinya bukan jadi alasan kenapa kalian enggan mengatur keuangan dengan baik. Justru berawal dari situ, kalian bisa belajar merencanakan keuangan untuk masa depan.

Padahal dengan kalian mematuhi tips keuangan untuk generasi milenial, kalian tak hanya hidup nyaman di masa sekarang, tapi juga sejahtera di masa tua. Tak percaya? Coba bayangkan, apa jadinya masa depan kalian jika kalian menikmatinya dengan hura-hura?

Sebagai generasi milenial, kalian dimanjakan dengan segala kemudahan berteknologi dan eksisnya tempat hiburan yang menjelma jadi kebutuhan. Tapi yang kalian dapatkan justru melenakan. Godaan itulah yang jadi penyebab kalian gagal mengatur keuangan untuk generasi milenial.

Untuk menangkal godaan yang mampu membahayakan masa depan kalian, ada baiknya kalian simak tips keuangan untuk generasi milenial. Berikut ulasannya.


1. Menyusun Rencana Keuangan

Sudah jadi kwajiban bagi siapapun untuk mengelola keuangan dengan membuat rencana keuangan setiap bulannya. Catat kebutuhan apa saja yang kalian perlukan setiap bulan terutama barang primer dan sekunder.

Sesuaikan dengan besaran jumlah gaji yang kalian dapatkan. Idealnya, tips keuangan untuk generasi milenial punya presentase 50% untuk keperluan sehari-hari, 20% untuk tabungan dan investasi, 30% untuk dana sosial, dana darurat, dan lainnya.

Kalau kalian memang punya uang lebih, baru kalian bisa mengalokasikan gaji kalian untuk membeli barang tersier. Tapi atur juga supaya jangan terlalu sering membeli kebutuhan tersebut untuk sekadar memuaskan hasrat kebosanan dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Karena kalian juga bagian dari anak teknologi, gunakan kecanggihannya untuk membantu kalian mengatur keuangan seperti misalnya menginstal aplikasi pengatur keuangan yang bisa dengan mudah diakses di smartphone yang mahal itu.

Situs e-commerce sering kali menggoda kalian, setidaknya punya aplikasi pengatur keuangan untuk generasi milenial tak hanya sebagai pencatatan semata, tapi juga mengajarkan kalian bagaimana caranya mengelola gaji yang tak seberapa itu secara bijak.


2. Tentukan Skala Prioritas

Ketika perencanaan keuangan untuk generasi milenial telah kalian terapkan, bijaklah dalam membelanjakannya. Tentukan skala prioritas, pisahkan mana kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya keinginan yang bisa ditunda.

Jangan terpancing omongan teman. Misalnya teman kalian bilang tak keren kalau anak muda tak pakai sepatu sneakers merk tertentu. Atau hanya karena kalian tak ingin dianggap ketinggalan zaman karena tak nonton Joker, kalian rela mengorbankan uang yang tak dialokasikan untuk nonton.

Teman kadang memang orang baik yang menjelma menjadi setan. Ajakan untuk menjalani hidup masa kini, kadang menjerumuskan kalian yang tak punya gaji seberapa itu agar jauh dari kehidupan masa depan yang mapan.

Sebetulnya tak apa jika sesekali hangout bersama teman supaya interaksi sosial kalian tetap terjaga. Hanya saja kalian perlu mengatur frekuensinya. Kalau perlu ajak juga teman kalian supaya ikut memperbaiki kebiasaan borosnya itu.


3. Cobalah Investasi Sejak Dini

Detik.com sempat merilis artikel menggelitik soal generasi milenial yang diprediksi tak akan punya rumah di masa mendatang. Menurut penelitian yang dilakukan, penyebabnya adalah kebiasaan kaum milenial yang hura-hura sedangkan harga rumah yang kian melangit.

Mulai sekarang, cobalah menabung. Selain menabung secara konvensional di bank, kalian juga bisa belajar berinvestasi sejak dini. Selain belajar disiplin mengelola keuanngan, investasi merupakan cara kalian menyiapkan masa depan.

Kalau kalian masih terbilang pemula dalam berinvestasi, mulailah dengan jenis investasi yang sesuai dengan keuangan untuk generasi milenial seperti menabung deposito, logam mulia atau emas, Reksa Dana, dan lain sebagainya tergantung jangka panjang atau pendek.


4. Temukan Pekerjaan Sampingan

Lapangan pekerjaan yang terbuka lebar, memungkinkan siapa saja bisa terjun ke dalamnya dengan berbagai latar belakang. Mengingat era digital sedang berkembang, tak ada salahnya sekalipun kalian telah berkarir di perusahaan tertentu untuk mencari pekerjaan sampingan.

Selama kalian pandai mengatur waktu, kesibukan kalian dalam menyiapkan masa depan dengan berbagai side job itu tak akan mengganggu rutinitas. Yang perlu kalian tekankan, beri penjelasan orang terdekat kenapa dan untuk apa kalian menyibukkan diri dengan pekerjaan sampingan.

Kalian tak pernah tahu apakah karir kalian jadi karyawan di perusahaan akan selamanya gemintang seperti sekarang atau malah nanti mengalami penurunan sehingga memengaruhi income. Jika tak mencari penopang mulai saat ini, masa depan kalian berada di ujung tanduk.

Menemukan pekerjaan sampingan sebagai penambah keuangan untuk generasi milenial cenderung mudah di era digital seperti sekarang. Banyak sekali kesempatan kerja yang sesuai dengan passion dan skill kalian dalam menggeluti hobi.

Semisal kalian suka traveling, saat weekend kalian bisa jadi tour guide freelance. Atau jadi fotografer lepas, penulis lepas, penerjemah, video editor, layout designer, dan lain sebagainya. Semua yang bisa kalian kerjakan di rumah pun juga bisa jadi tambahan penghasilan.


5. Miliki Dana Darurat

Dana darurat memiliki definisi berbeda dengan tabungan dan investasi. Tujuan tabungan sudah jelas untuk jangka panjang dalam menyiapkan masa depan, sedangkan dana darurat lebih diartikan sebagai ‘dana jaga-jaga’, kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Setiap bulan dari uang yang kalian sisihkan untuk dana darurat bisa saja terpakai, bisa juga tidak. Nah, karena dana darurat semakin lama semakin terkumpul, sebaiknya jangan tergoda juga untuk membelanjakannya di luar anggaran keuangan untuk generasi milenial yang telah kalian sepakati.

Dana darurat ini berfungsi kalau misalnya kalian mengalami kecelakaan atau tiba-tiba kalian dipecat dari perusahaan. Tanpa dana darurat, finansial kalian kembali ke nol.


6. Bergabung dengan Asuransi Kesehatan dan Jiwa

Biasanya, perusahaan tempat kalian bekerja sudah menjamin kesehatan tenaga kerjanya dengan mendaftarkannya di jaminan kesehatan milik pemerintah. Meskipun demikian, tak ada salahnya jika kalian tetap bergabung dengan asuransi secara mandiri.

Sama fungsinya seperti investasi, alasan kalian kenapa perlu punya asuransi adalah untuk persiapan masa depan. Terlebih jika kalian nantinya berkeluarga, dan jadi pencari nafkah utama. Bayangkan apa yang terjadi jika tiba-tiba kalian tak lagi bisa mendapat penghasilan.

Anggota keluarga kalian akan menanggung beban lebih berat karena harus mengurus anak-anak sekaligus menghidupinya. Terlebih jika kalian punya cicilan KPR, tentu kalian tak ingin anak dan pasangan kalian terusir dari rumah yang susah payah kalian perjuangkan akibat disita bank.


7. Ubah Gaya Hidup Hedon

Berhenti bersenang-senang seolah kebahagian adalah tujuan utama kalian dalam menjalani kehidupan. Merasa tak pernah puas menyenangkan diri sendiri dengan belanja sepuas hati merupakan gaya hidup buruk yang justru mengancam masa depan kalian.

Ingat, kalian tidak dilahirkan hanya untuk kesenangan diri kalian. Lepaskan kacamata kuda kalian, lihat sekeliling, apakah ada yang perlu diperbaiki ketimbang mengejar eksistensi dan puja-puji. Boleh saja kalian kelebihan materi, tapi tak akan banyak berguna kalau tak pernah berbagi.

Dan bukankah kata Christopher McCandless yang meninggal dalam kebebasannya meninggalkan semua hartanya adalah “hapiness only real when shared”.

0 tampilan
  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram

#CobaKonsultasiAja