CALL US TODAY FOR A CONSULTATION

+62 821 2607 8588

Prinsip Akuntansi dan Pelaporan Keuangan

Diperbarui: Jun 8

Dalam situasi tersebut, kalian boleh saja bicara dengan bahasa kalian dan berharap dimengerti. Tapi tahukah bahwa penghuni Amazon sama berjuangnya memahami apa yang kalian bicarakan memakai bahasa terbaik dan bahasa tubuh yang bisa dilakukan?

Dewasa ini, bahasa Inggris merupakan bahasa pemersatu dunia. Atau bisa dikatakan bahasa internasional yang banyak dimengerti dan dipelajari oleh seluruh kalangan yang tak ingin terjadi kesalahpahaman berbahasa.

Tak ubahnya dengan bahasa akuntansi, sebagai upaya pemersatu kesepahaman, maka diciptakanlah prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan. Pada dasarnya, prinsip akuntansi seluruh dunia itu sama, tapi disesuaikan dengan kondisi negara tertentu dan Undang-Undang tertentu.

Prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan yang perlu kalian ketahui dibuat dengan ketentuan mudah dipahami dan ditaati oleh penyusun standar, penyelenggara akuntansi, serta pengguna laporan yang menerima laporan keuangan kalian.

Siapa bilang pelaporan keuangan bisa dikreasikan sesuai kehendak kalian? Masalahnya, kalian bukan kaum hippies, ada standar kehidupan tertentu yang wajib kalian taati supaya masalah kalian dapat solusi secepatnya. Untuk itu, mari simak prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan seperti berikut ini.


1. Basis Akuntansi

Sebagai prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan, ada hal paling mendasar yang perlu kalian taati agar pengakuan dengan dasar basis akrual Laporan Operasional dan basis akrual neraca, dapat dipahami oleh bahkan pihak awam sekalipun.

Sesuai dengan PSAK nomor 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba, disarankan supaya kalian memakai basis akuntansi akrual secara penuh atas pengakuan dan pengukuran penerimaan dan pengeluaran dana.

Dalam perkembangannya, kalian wajib tahu jenis basis akuntansi apa saja yang selama ini belum kalian ketahui seperti; akuntansi berbasis kas, modifikasi dari akuntansi berbasis kas, akuntansi bebasis akrual, dan modifikasi akuntansi berbasis akrual.


2. Prinsip Nilai Perolehan

Aktiva atau kas yang masuk, bisa kalian artikan sebagai pendapatan atau penghasilan baik itu bersumber dari pelayanan barang atau jasa. Tugas kalian dalam prinsip ini adalah mencatat aktiva yang masuk itu sebagai pendapatan.

Tak cuma pencatatan penghasilan dan aset tetap seperti peralatan kantor, tanah, dan bangunan, penurunan hutang pun sebetulnya adalah bagian dari dalah satu simpanan pendapatan, sehingga tiap kali ada transaksi pembayaran utang wajib kalian sampaikan.

Dengan kata lain, aktiva, utang, penghasilan, modal, dan biaya hendaknya kalian catat sebesar harga perolehan yang disepakati oleh kedua pihak yang bertransaksi. Penggunaan prinsip nilai perolehan didasari harga itu ditentukan secara obyektif, sesuai bukti transaksi.

Semisal kalian menjual satu makanan tertentu untuk makan malam sepanjang bulan dan punya penghasilan 10 juta, penambahan 10 juta bukan hanya diakui sebagai harta, melainkan juga sudah harus disampaikan dalam basis nilai perolehan.


3. Prinsip Realisasi (Realization Principle)

Semua pendapatan yang kalian simpan dan catat dalam basis nilai perolehan prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan, pada akhirnya akan berada di fase pencocokan biaya-pendapatan. Maksudnya untuk mempertemukan pendapatan dengan biaya yang akan dikeluarkan.

Di samping itu, tujuan jika kalian menerapkan prinsip ini adalah untuk menentukan laba bersih dalam satu periode tertentu. Misal kalian sudah mengeluarkan biaya produksi 10 juta, sedangkan penghasilan kotor 15 juta. Jadi laba bersihnya adalah 5 juta.


4. Prinsip Substansi Mengungguli Formalitas (Substance Over Form Principle)

Sebagai akuntan, kalian hendaknya menjunjung tinggi prinsip substansi mengungguli formalitas dalam prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan. Prinsip ini dimaksudkan untuk menyediakan informasi yang jujur terkait pelaporan keuangan.

Apa saja infromasi akuntansi yang dimaksud? Setiap transaksi dan peristiwa yang terjadi, harus kalian catat sesuai substansi dan realitas ekonomi, bukan karena sebuah formalitas belaka. Intinya setiap pencatatan wajib konsisten sesuai standar tanpa maksud dan tendensi tertentu.

Atau bilamana substansi transaksi atau peristiwa tidak konsisten dengan aspek formalitasnya, kalian wajib mencantumkan alasannya di Catatan atas Laporan Keuangan.


5. Prinsip Periodisitas (Periodicity Principle)

Dalam melakukan kegiatan akuntansi dan pencatatan laporan keuangan, perusahaan kalian biasanya wajib membagi waktu secara periodik. Pelaporan keuangan yang periodik seperti ini, membantu perusahaan dalam mengukur tingkat kinerjanya selama periode tertentu.

Pada perusahaan, kalian bisanya diminta membuat laporan keuangan utama selama periode per tahun. Sementara untuk pelaporan realisasi anggaran, supaya lebih mudah, kalian akan melaporkannya per bulan atau per semester.


6. Prinsip Konsistensi (Consistency Principle)

Pelaporan akuntansi yang kalian lakukan harus sama dari waktu ke waktu, dari periode ke periode. Hal yang sama juga berlaku terhadap metode yang kalian pakai saat pelaporan akuntansi. Tidak boleh ada perubahan satu metode akuntansi satu ke metode akuntansi yang lain.

Kalian hanya bisa mengubah metode akuntansi yang dipakai jika telah memenuhi syarat. Adapun syaratnya adalah metode baru yang hendak kalian terapkan harus punya hasil lebih baik daripada metode yang kalian pakai sebelumnya.

Ketika kalian benar-benar mengubah metodenya, alasan yang mempengaruhi dan membuat kalian mempertimbangkan untuk menerapkan metode baru harus kalian cantumkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.


7. Prinsip Pengungkapan Lengkap (Full Disclosure Principle)

Dalam prinsip pengungkapan lengkap, kalian wajib menyajikan informasi lengkap terkait laporan keuangan yang diperlukan pengguna. Informasi yang diperlukan pengguna bisa kalian cantumkan pada lembar muka laporan keuangan atau Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Catatan atas Laporan Keuangan yang wajib kalian ketahui merupakan salah satu unsur laporan keuangan yang menyajikan informasi tentang penjelasan terinci atas nilai suatu pos dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas.

Bagaimana cara menjelaskan laporan Catatan atas Laporan Keuangan? Kalian bisa menulis narasi terinci dari angka yang tertera di Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, dan laporan akuntansi lainnya.


8. Prinsip Penyajian Wajar (Fair Presentation Principle)

Ketika kalian membuat laporan keuangan, laporkan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.

Dalam menyusun laporan memakai prinsip penyajian wajar, kalian perlu menimbang saat menemukan laporan keuangan dalam ketidakstabilan atau ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu.

Ketidakpastian peristiwa yang kalian temukan itu setidaknya mengungkap hakikat dan tingkat penyajian wajar dengan memakai pertimbangan sehat dalam menyusun laporan keuangan. Pertimbangan sehat artinya selalu mengandung unsur kehati-hatian.

Hati-hati terhadap apa? Saat membuat pelaporan keuangan dalam ketidakpastian, kalian harus menimbang sehat prakiraan sehingga aset atau pendapatan dinyatakan tidak terlalu tinggi dan kewajiban tidak terlalu rendah.

Meskipun demikian, pertimbangan sehat tidak elok kalian pakai bilamana ada unsur kesengajaan untuk menyembunyikan aset cadangan, dengan menetapkan aset terlalu rendah dan mencatat kewajiban belanja terlampau tinggi.

0 tampilan
  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram

#CobaKonsultasiAja