© 2019 trusvation .  All rights reserved.

konsultan pajak dan accounting software di Indonesia.

  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube
Cari
  • trusvation

Memahami kaitan POAC dalam manajemen bisnis

Baik manajemen dan strategi pemasaran akan berkembang seiring lingkungan bisnis yang dinamis dan perubahan iklim ekonomi yang menyertai. Itu berarti, setiap kerangka kerja dan konsep bisa diterapkan sesuai situasi yang berjalan.

POAC (planning, organizing, actuating, dan controlling) merupakan konsep manajemen dasar yang diperkenalkan oleh George R. Kelly. Konsep ini bisa diterapkan di semua perusahaan di dunia guna menjaga kelangsungan bisnis.

Tentu saja ada banyak konsep lain yang serupa dengan POAC, tapi konsep metode ini lebih fleksibel dan kompatibel diterapkan di berbagai lini manajemen. Jika disederhanakan lagi, POAC merupakan metode yang digunakan untuk mencapai target.


1. Planning (merencanakan)

Gagal membuat rencana, berarti merencanakan kegagalan.

Layaknya idiom tersebut, suatu bisnis tak akan pernah bisa terwujud tanpa adanya rencana, dalam hal ini biasanya berbentuk program. Untuk membuat program yang layak pasti memerlukan analisa penting dalam aspek kekuatan, kelemahan, peluang, dan pendekatan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, empat aspek analisa tersebut sering disebut SWOT (strength, weakness, opportunity, dan threat). Mudahnya, semua model bisnis bisa sukses jika mau menyusun rencana atau strategi yang layak.

Rencana bisa didefinisikan sebagai aksi untuk mengatur tujuan yang ingin dicapai perusahaan dengan membuat kerangka kerja yang objektif. Jika dibuat mudah, perencanaan merupakan proses menyusun semua kebutuhan bisnis guna mencapai sukses.

Rencana bisa disusun dengan melihat kegentingan ide dan alasan dibalik bisnis tersebut. Langkah ini lalu disusul dengan menuangkan ide dalam bentuk draft konsep atau yang serupa. Rencana yang bagus tak harus disusun dari banyak individu, tapi cukup beberapa anggota tim konseptor saja.

Semakin banyak kepala yang terlibat, rencana yang dihasilkan justru bisa menjadi kacau sehingga tak mempunyai nilai. Proses penyusunan rencana bahkan bisa lebih memakan waktu semisal ada banyak pihak yang terlibat, hasilnya akan sulit mencapai kesatuan ide dasar.

Tim konseptor harusnya berisi individu yang memang punya kemampuan dan pemahaman dari aktivitas bisnis yang akan dijalankan. Di tahap ini, hasil akhir yang didapat harus berupa ide dasar, kebutuhan personil, estimasi biaya dan waktu, juga jobdesc tiap tim atau divisi.


2. Organizing (mengatur)

Manusia merupakan makhluk sosial, hanya organisasi yang bisa menjadikan komunal.

Poin ini dimaksudkan sebagai proses mengatur tim atau divisi, mengatur jadwal kerja, membuat anggaran pengeluaran, juga mengelompokkan tiap individu sesuai kemampuannya. Mengatur merupakan aksi nyata dari perencanaan dan struktur perusahaan.

Organizing akan menuntuk suatu bisnis untuk menempatkan invididu dan sumber daya fisik lain dalam upaya menerjemahkan rencana ke dalam suatu aksi yang nyata. Proses ini lalu menghasilkan pembagian divisi atau tim tertentu dengan tugas spesifik

Semisal tahap penyusunan rencana sudah beres, hasilnya lalu disebar-luaskan ke grup yang lebih besar. Ini bisa dimulai dari divisi yang ada di perusahaan. Tiap divisi pasti mempunyai ide sendiri dalam mengimplementasikan konsep dasar bisnis, termasuk segala keperluannya.

Dengan distribusi konsep yang ideal, tiap divisi dalam struktur bisnis pasti akan berusaha menjalankan sesuai prosedur dan secara sistematis. Banyaknya individu di tiap divisi harus dihitung berdasarkan kebutuhan. Kurangnya personil untuk tiap divisi bisa menyebabkan masalah, tapi hal yang juga bisa terjadi jika terlalu banyak personil yang terlibat.

Satu alasan, terlalu banyak personil akan memberi kesulitan sendiri saat diatur daripada hanya beberapa individu saja. Masalah juga bisa muncul dari biaya operasional yang dikeluarkan, yang mana pasti akan menjadi lebih efektif jika hanya ada sedikit individu yang terlibat.

Di tiap divisi pastinya ada satu penanggungjawab terhadap tugas, otoritas, jobdesc yang berbeda. Makin tinggi posisi yang dipegang, makin besar tanggung jawab, tugas, dan otoritas yang dimiliki. Inilah kunci utama dari organisasi perusahaan, yaitu dalam pengelolaan sumber daya manusia.

Prinsip dasar pengelolaan ini akan menjaga bisnis tetap berjalan sesuai alur yang direncanakan di awal. Caranya yaitu dengan membagi tugas ke tiap satu divisi sesuai dengan keahliannya. Dalam hal ini, peran pimpinan menjadi lebih krusial karena harus mampu mengelola rencana yang sudah ada.


3. Actuating (mengaktualisasi)

Seribu langkah tak akan pernah tercapai tanpa langkah kecil pertama.

Mengimplementasi rencana dalam sebentuk aksi menjadi langkah penting untuk mencapai sukses dalam bisnis. Dalam hal ini, tiap divisi kemudian bisa bertugas sesuai deskripsi pekerjaan masing-masing dengan cara mengaktualisasi ide dasar yang sudah diberikan.

Dengan rencana matang plus aktualisasi sesuai prosedur yang sudah ditetapkan, sistem manajemen bisa berjalan lebih halus. Tapi untuk mewujudkan hal ini, diperlukan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja sama. Semua divisi harus seirama dalam mengeksekusi program.

Dalam kata yang lebih mudah, aktualiasi merupakan bagian dari misi, sedangkan rencana yang dibuat menjadi bagian dari visi. Mengaktualisasi rencana kerja harus sesuai program kerja yang sudah disiapkan sebelumnya. Tentu saja dalam praktiknya pasti akan ada yang berubah sesuai situasi yang berlangsung.

Tiap divisi dan individu yang tergabung pada suatu bisnis harus bekerja sesuai dengan tugas yang dibebankan, termasuk fungsi dan peran yang diemban. Keahlian dan kompetensi dari tiap individu akan sangat krusial dalam proses aktualisasi ide.

Aktualisi merupakan proses implementasi rencana. Tapi berbeda dengan rencana kerja, aktualisasi bukan sesuatu yang abstrak. Jadi tanpa ada satu aksi yang nyata, rencana hanya akan menjadi sekedar imajinasi belaka, atau mimpi yang tak pernah menjadi nyata.


4. Controlling (mengontrol)

Jauh lebih mudah membuat daripada menjaga.

Kontrol bisa memastikan alur kerja bisnis akan sesuai rencana. Bahkan tiga poin di atas (planning, organizing, dan actuating) tak akan berjalan sempurna tanpa ada kontrol yang layak. Dalam hal ini, mengontrol bisa dimaknai sebagai aktivitas menjaga bisnis supaya tetap eksis.

Mengontrol semua proses aktualisasi termasuk aspek penting dalam manajemen bisnis yang ideal. Proses sudah harus dilakukan sedari awal membuat rencana sampai proses aktualisasi. Ini berguna untuk menjaga semua proses berjalan sesuai apa yang direncanakan.

Kontrol yang dimaksud merupakan tugas utama dari pemimpin atau koordinator tiap divisi. Kontrol umumnya mencakup semua aspek, termasuk aktivitas bisnis yang sedang berjalan, kenyamanan semua individu yang terlibat, waktu yang diperlukan tiap divisi, juga lainnya.

Tujuan dari kontrol yaitu memastikan bahwa semua aktivitas yang terlibat dalam bisnis sesuai dengan kerangka kerja yang sudah dibuat dengan mengacu pada konsep dasar. Hasil akhirnya adalah, semua aktivitas yang dikerjakan akan memberi hasil maksimal.

Jika suatu saat muncul masalah di luar rencana, pemimpin harus mampu memberi solusi, tentunya sesuai dengan mengacu rencana kerja. Pada proses kontrol ini, peran pemimpin sangat diperlukan, terlebih saat dituntut mengambil keputusan cepat dan akurat.

Satu manfaat penting dari kontrol yaitu mampu melihat potensi penyimpangan yang terjadi selama bisnis berjalan, baik dalam proses perencanaan, implementasi, dan organisasi. Dengan cepat dikoreksi, antisipasi dan penyesuaian bisa dilakukan sesuai situasi yang terjadi.

342 tampilan