© 2019 trusvation .  All rights reserved.

konsultan pajak dan accounting software di Indonesia.

  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube
Cari
  • trusvation

Dasar-dasar Perencanaan Keuangan Startup


Berniat membuat bisnis startup? Sebagai bisnis rintisan terutama yang berbau teknologi, tentu kalian punya tantangan tersendiri untuk memulainya. Selain karena masih terbilang bisnis baru, kalian jadi harus banyak belajar, terlebih mengelola keuangannya.

Tak jarang, startup yang kalian dirikan bisa-bisa gagal di awal hanya karena pengelolaan keuangan yang buruk. Pengelolaan selalu diawali dengan perencanaan yang matang. Sementara itu, bisnis startup yang baru berdiri pasti mengalami fase penelitian dan pengembangan.

Bagaimana mengatasi pengeluaran yang luar biasa di awal usaha? Tentu kalian harus membuat perencanaan keuangan startup agar kegagalan bisnis tak terjadi serta kualitas layanan bisa maksimal kalian beri pada konsumen.

Bicara soal bisnis tentu masalah keuangan jadi pondasi awal yang harus kalian bangun. Tanpa modal, bagaimana mungkin startup bisa berjalan sesuai apa yang kalian inginkan. Oleh karenanya, untuk perencanaan keuangan startup setidaknya punya dasar-dasar seperti ini.


1. Persiapkan Biaya Produksi (Setup Cost)

Biaya terbesar yang perlu kalian alokasikan pertama adalah setup cost. Yaitu biaya untuk menyiapkan mesin produksi dan proses pemesanan barang atau bahan. Biaya ini bisa kalian pangkas jika dilakukan secara elektronik.

Pada tahap awal perencanaan keuangan ini, kalian perlu mengakumulasi besaran biaya setup untuk selanjutnya kalian komparasikan dengan sejumlah modal usaha yang kalian kumpulkan. Jika besaran biaya setup lebih besar, kalian harus bersiap mencari dana tambahan.

Biaya apa saja yang harus kalian siapkan dalam tahap setup? Biaya administrasi, pemasaran, pendaftaran, lisensi, peralatan dan aset, serta modal awal.


2. Proyeksikan Laba dan Rugi

Dalam menyiapkan perencanaan keuangan startup, kalian boleh mulai dari pembuatan estimasi perputaran modal, pengeluaran, estimasi laba rugi, pendapatan, analisa pasar, dan titik impas dari produk atau layanan kalian.

Kenapa memroyeksikan laba dan rugi sangat penting untuk perencanaan keuangan bisnis kalian? Sebab dengan mengetahui besaran laba yang kalian inginkan, semestinya kalian jadi tahu berapa harga jual produk itu sendiri.

Caranya adalah dengan membandingkan perkiraan omset dengan harga pokok penjualan dan biaya operasional. Lalu kalian bisa menetapkan berapa persen harga penjualan sehingga kalian menghitung besaran potensi keuntungan.


3. Perkiraan Arus Kas

Sama halnya seperti proyeksi laba rugi, dalam perkiraan arus kas, kalian hanya perlu menyusun estimasi dana yang dilaporkan guna menunjukkan perubahan uang kas perusahaan startup kalian selama satu periode tertentu semisal satu tahun. Bisa itu penambahan atau pengurangan.

Bertambahnya atau berkurangnya kas selama satu periode sangat ditentukan oleh besarnya pengeluaran (cash outflow) dan penjualan investasi (cash inflow), misalnya. Cash outflow seperti pengeluaran dividen, pembayaran pajak, pembayaran gaji, bunga, dan lain sebagainya.

Misal dana bisnis startup kalian tinggi, berarti punya potensi tingkat likuiditas yang tinggi. Tapi jika memberi gambaran rendahnya cashflow, artinya startup kurang efektif dalam memakai uang kas. Supaya kas stabil maka pada tahap perencanaan kalian harus menyiapkan data-datanya.

Apa saja data yang diperlukan? Ketersediaan modal (baik modal sendiri maupun investasi asing), proyeksi pendapatan, dan rencana produksi atau pesanan.

Pada praktiknya, tak jarang di tengah jalan bisnis kalian dapat keuntungan yang besar, tapi ternyata tak punya cukup uang cash untuk mencukupi biaya operasional bisnis kalian. Bagaimana mungkin terjadi? Inilah yang dinamakan keuntungan semu, laba yang hanya nyata di atas kertas.

Sekalipun kalian beruntung terlahir di era 4.0, nyatanya keuntungan semu tak bisa ditolong oleh adanya semacam dompet digital. Sebab laba yang kalian hitung itu sebetulnya sejumlah uang yang belum dibayarkan oleh konsumen hingga jatuh tempo.


4. Perkiraan Neraca Saldo

Sebagai dasar perencanaan keuangan startup, perkiraan neraca saldo ini penting sebab kalian bisa memperkirakan jumlah pengeluaran dan pembiayaan operasi. Dalam hal ini kalian bisa mengambil aset, saldo pinjaman, dan saldo modal.

Ketika kalian menghitung laporan neraca, yang harus diperhatikan dengan cermat adalah hasil perhitungan laba rugi tidak semua bisa dimasukkan dalam arus kas, sehingga arus kas hanya mencatat perhitungan yang nantinya dilakukan secara tunai.

Jika ternyata kedapatan jumlah Aktiva dan Passiva tak seimbang dalam Neraca Saldo, hitung kembali apakah Laporan Laba Rugi dan Arus Kas sudah benar atau belum. Biasanya ada ketidaksesuaian akun-akun yang kalian masukkan di laporan keuangan sebelumnya.


5. Analisa BEP (Break Even Point)

Pernah tidak kalian membayangkan omset menurun sedangkan bisnis harus tetap berproduksi? Nah, bagaimana caranya supaya hasil produksi tak membuat bisnis kalian jadi merugi? Dengan membuat analisa Break Even Point ini setidaknya membantu kalian dalam perencanaan keuangan startup.

Bagaimana caranya bisnis startup kalian beroperasi sementara titik keseimbangan antara laba dan rugi di level nol? Kalian perlu menghitung hubungan biaya tetap, biaya variabel, keuntungan, dan volume aktivitas.

Selama satu periode bisnis kalian mengalami BEP, jika kondisi menunjukkan biaya total produksi sudah melebihi total penjualan, bisa dikatakan bisnis kalian berada di bawah titik BEP. Dengan kata lain mengalami kerugian dan apakah harus tutup atau bertahan.

Apa pentingnya analisa BEP dalam bisnis kalian? Dengan cara ini kalian punya informasi berapa jumlah penjualan minimal agar startup tak mengalami kerugian dan berapa jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapat laba.

Selain itu mengetahui seberapa berkurangnya penjualan supaya bisnis tak rugi serta bagaimana efek perubahan harga jual, biaya tetap, biaya variabel, dan volume penjualan terhadap keuntungan yang ingin kalian peroleh.


6. Menerapkan Displin Keuangan

Setelah membuat perkiraan pengeluaran biaya yang harus kalian keluarkan untuk membidani lahirnya bisnis startup kalian, selanjutnya adalah melakukan disiplin keuangan. Patuhi rencana anggaran sesuai estimasi biaya yang kalian buat.

Jangan sekalipun memakai dana yang telah kalian alokasikan itu untuk sekadar membeli benda konsumtif dan tak penting. Seperti pengadaan peralatan dan perlengkapan kantor yang tak terlalu banyak fungsi, misalnya.

Selain patuh pada anggaran, kalian juga harus hemat dalam mengelola keuangan agar anggaran tahun pertama bisnis kalian tak mengalami defisit yang mengakibatkan kerugian. Bukan kerugian karena tak diminati produknya, tapi ulah kalian sendiri yang gagal mengelola keuangan.


7. Dapatkan Layanan Konsultasi Keuangan

Mengontrak Konsultan keuangan dalam jangka panjang bekerja di bisnis kalian yang masih bau kencur itu tentu butuh biaya yang tak sedikit. Sementara itu kebutuhan karyawan lain seperti CTO dan CFO masih harus dipenuhi dengan budget yang sudah dihemat.

Terutama soal keuangan, adanya konsultan tentu berperan penting dalam merencanakan keuangan startup kalian ke depan. Bagaimana mengatasinya? Untuk menghemat biaya, kalian bisa mengundangnya sebagai penasihat atau konsultan keuangan untuk sementara waktu.

Dari pengalaman dan pengetahuan konsultan, tim kerja kalian bisa belajar bagaimana mengelola keuangan dan proses penerapannya hingga bisnis itu berjalan. Namun sebelum memilih konsultan keuangan, ada baiknya kalian diskusikan dulu dengan tim soal konsultan mana yang tepat.

Bagaimana memilih konsultan supaya sesuai dengan bisnis kalian? Kalian bisa mulai dengan interview portofolio calon konsultan agar tahu tepat atau tidak dengan bisnis kalian. Dan pastikan juga konsultan yang kalian pilih punya sertifikat dari lembaga keuangan terpercaya.

8 tampilan