© 2019 trusvation .  All rights reserved.

konsultan pajak dan accounting software di Indonesia.

  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube
Cari
  • trusvation

7 Aturan Berinovasi Dalam Bisnis

Coba kalian lihat dalam skala yang lebih luas, sudah jelas bahwa inovasi hari ini jauh lebih dari sekedar riset di laboratorium. Kalian pasti punya sesuatu yang baru, dan kombinasikan ide itu menjadi suatu tindakan nyata. Hasilnya akan jadi sesuatu yang berbeda, dan itulah inovasi.

Desember 1968, Douglas Engelbart dari Departemen Pertahanan Amerika membuat projek yang fokus ke peningkatan intelektual, meski sedang perang dingin. Dua dari tamu tersebut yaitu Alan Kay dan Bob Taylor yang lalu mengembangkan ide Engelbart ke Alto, komputer personal pertama.

Steve Jobs muncul dan mengubah ide Alto ke Macintosh. Lalu siapa yang mendapat kredit, Engerlbart dengan idenya? Kay dan Taylor dengan dasar komputer? Atau Jobs karena produknya yang mengubah dunia? Argumen kuat bisa dibuat untuk masing-masing, termasuk sosok lain yang tak disebut di sini.

Jika ditarik garis besarnya, ada banyak cara untuk inovasi. Mengacu pada penggalan sejarah tersebut, paling tidak ada beberapa aturan dalam membuat inovasi.


1. Inovasi Bukan Kejadian Tunggal.

Alan Turing pertama kali mencetuskan ide komputer universal di tahun 1936, tapi di 1946 baru benar-benar dibuat, dan mulai 1990 komputer memberi efek ke dunia. Alexander Fleming menemukan penisilin di 1928, tapi baru di 1943 obat ajaib ini baru digunakan secara masif.

Kalian mungkin berpikir inovasi muncul dari kejadian tunggal yang muncul tiba-tiba. Tapi yang terjadi, bahwa inovasi memerlukan proses yang melibatkan runutan suatu ide, penemuan solusi, dan aplikasi dalam skala lebih luas. Dan ini tak bisa dicapai satu sosok atau organisasi saja.


2. Innovasi Adalah Kombinasi.

Alasan Fleming tak bisa mengedarkan penisilin karena, sebagai biologis, dia tak punya kemampuan marketing. Dua dekade kemudian, dua ahli kimia Ernst Boris Chain dan Howard Florey mampu membuat penisilin menjadi lebih sintetis sehingga menjadi obat yang lebih ampuh sampai saat ini.

Bahkan teori Darwin yang terkenal dengan seleksi alam merupakan ide pinjaman dari Thomas Malthus yang merupakan ekonom dan Charles Lyell yang merupakan biologis. Watson dan Crick menemukan DNA dengan mengkombinasikan ilmu biologi, kimia, dan x-ray.

Dari sini bisa dilihat, inovasi besar hampir tak pernah terjadi hanya dari satu bidang keahlian saja, tapi melibatkan berbagai pemodelan hingga menemukan satu hasil luar biasa.


3. Tak Ada Batasan Untuk Inovasi.

Saat kalian berpikir tentang inovasi, yang muncul di pikiran pasti startup. Tak salah memang, karena kecenderungan yang terjadi saat ini memang demikian. Untuk memperjelas, startup Space-X atau Uber bahkan bisa merubah market dan menciptakan konsumen loyal.

Tapi startup lain, IBM misalnya, sudah berada di jajaran atas selama satu dekade. Tapi saat terjadi pergeseran market dan kompetitor baru muncul lalu menantang, IBM tiba-tiba lenyap bak di telan bumi. Artinya, startup kecil bisa berkembang tanpa batas, sementara startup besar bisa saja tumbang.

Padahal, startup besar punya konsumen loyal dan sumber daya tak terbatas. Mereka bisa saja melihat ke belakang untuk mendapat poyeksi masa mendatang. Tapi ada satu perbedaan besar disini, konsisten berinovasi atau cepat mati!


4. Selalu Terbuka Untuk Mengembangkan Kemampuan.

Saat Microsoft meluncurkan Kinect di tahun 2010, perangkat ini menjadi buruan konsumen paling hot hingga terjual 8 juta unit hanya dalam dua bulan saja. Dalam waktu yang singkat juga, peretas mulai menyusup perangkat ini, sesuatu yang tak terpikirkan oleh Microsoft.

Alih-alih meminta peretas menghentikan kegiatannya, Microsoft justru mengajak kerja sama sehingga menghasilkan pembaruan software untuk mencegah kasus serupa. Seperti Microsoft, banyak bisnis saat ini mulai terbuka agar lebih bisa mengembangkan kemampuan.

Misalnya saja, Cisco terkenal bukan karena kemampuannya menghasilkan berbagai produk inovatif. Tapi lebih karena membeli startup potensial yang mampu menghasilkan karya luar biasa. Layaknya yang terjadi pada Fleming dengan penisilin, menemukan solusi dari masalah utama butuh keahlian dan kemampuan baru yang seringnya tak dipunyai.

Itu berarti, dalam satu titik, kalian butuh partner atau platform untuk bisa mengembangkan kemampuan melebihi apa yang kalian punyai sekarang, termasuk dalam aspek talenta.


5. Inovasi Butuh Model Bisnis Baru.

Saat Chester Carlson menyempurnakan penemuannya di tahun 1938, dia mencoba menawarkan desain tersebut ke lebih dari 20 perusahaan dan hasilnya nihil. Alasannya sederhana, harganya terlalu mahal untuk kondisi market saat itu.

Tahun 1946, Joe Wilson yang mengambil alih posisi Carlson menemukan ide baru. Alih-alih menjual desain, dia memilih menyewakan mesin tersebut. Ide tersebut ternyata sukses besar, dan di tahun 1948 perusahaan tersebut merubah namanya menjadi Xerox.

Satu yang membuat rumit inovasi yaitu kadang tak sesuai dengan model bisnis saat ini jika diaplikasikan sehingga nilai dari bisnis tersebut tidak jelas. Kodak menghasilkan uang dari menjual film, tapi lambat dalam mengadopsi kamera digital sehingga membuatnya jatuh.

Contoh lain, bisnis Yahoo! selalu berfokus agar pengguna berada dalam situsnya, sehingga melewatkan kesempatan besar mengakuisisi Google saat itu. Dan sekarang kalian sama-sama tahu bagaimana nasib Yahoo!. Jadi, bukan hanya produk yang perlu kalian inovasi, tapi model bisnisnya juga.


6. Di Era Digital, Dibutuhkan Platform Untuk Membuat Ekosistem.

Bukan suatu kebetulan bahwa dua sosok yang akan menerjemahkan visi Engelbart saat presentasi demo sudah kenal secara pribadi. Di era tersebut, tentu sangat sulit untuk bisa aktif berkolaborasi. Saat ini, kalian bisa memakai platform apa saja untuk mengakses banyak hal.

Ambil contoh App Store milik Apple. Dari sini, Apple mencoba menyediakan cara paling efektif bagi penggunanya untuk memaksimalkan fungsi ponselnya, sekaligus memberi kesempatan Apple untuk mendapat akses ke jutaan talenta yang merupakan pengembang aplikasi.

Sangat sulit untuk membayangkan ada satu perusahaan mempunyai ekosistem dengan skala yang demikian luas. Di dunia yang saling terhubung, cara paling pasti untuk sukses bukan dengan mengontrol dan mengakuisisi aset, tapi memperluas dan memperdalam koneksi.


7. Kolaborasi Adalah Keunggulan Saat Berkompetisi.

Jika kalian melihat lagi inovasi yang terjadi di masa lalu, sulit membayangkan apa yang akan terjadi jika ceritanya berbeda. Bagaimana jika ahli kimia menemukan penisilin karya Fleming hanya dalam waktu seminggu alih-alih satu dekade? Berapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan?

Tapi jika kembali ke masa sekarang, persoalan yang harus diselesaikan jelas lebih kompleks daripada generasi sebelumnya. Itulah alasan kenapa riset ilmiah saat ini empat kali lipat lebih banyak daripada dekade 1950. Di saat yang sama, pengetahuan sudah menjadi demokrasi.

Misalnya, seorang bocah dengan smartphone di tangan saat ini bisa mengakses banyak informasi daripada spesialis dengan tingkat pelatihan tinggi di masa lalu. Itu sebabnya, kolaborasi menyediakan keunggulan tersendiri saat berkompetisi.

Dari gambaran di atas, jelas kalian perlu melihat ke cakrawala lebih luas guna melakukan suatu inovasi besar. Dengan tingkat kompetisi yang semakin ‘riuh’, penting untuk menemukan strategi tepat dalam menyediakan solusi, dan itu hanya bisa didapat dari inovasi.

https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20181219/pexels-photo-938965-847cd4d5d7acc2d91f557153739eb4ac_600x400.jpeg

6 tampilan